Minggu, 17 Juli 2011

Air Terjun HelaÓwÒ

Air terjun helaowo berada di desa sinar helaowÖ yang merupakan hasil pemekaran dari desa Hili na’a, Gomo. Objek wisata ini terletak antara 6 km dari Gomo dan 2 km dari objek wisata BÖrÖ Nadu. Dengan kondisi jalan yang sempit dan mengkhawatirkan membuat objek wisata ini kurang banyak dikunjungi oleh wisatawan local maupun asing. Untuk dapat mengunjungi objek wisata ini Sekitar 150 m dari jalan besar. Dalam jarak yang 150m tersebut pun masih harus melewati sungai kecil yang tidak memiliki jembatan. Artinya untuk mengunjungi objek wisata ini harus rela untuk basah sedikit. Biarpun begitu semuanya akan terbayarkan bila kita telah melihat objek wisatanya yang indah walaupun dalam jarak yang agak sedikit jauh karena tidak terdapat jalan untuk sampai tepat di air terjunnya. Air terjun ini tingginya sekitar 15 meter dan berasal dari Bőrő Nadu, Gomo.

Disini kita dapat dipandu oleh masyarakat setempat yang sehari – harinya beraktivitas di sekitar objek wisata ini. Dengan sikap masyarakat yang ramah tamah mereka akan selalu welcome bila kita mau berbaur dengan mereka. Masyarakat yang hidup sederhana ini rata – rata berpenghasilan dari hasil menyadap karet dan hanya sebagian kecil saja yang berladang.

Menurut informasi yang di dapatkan dari salah satu informan kita, banyak sekali mitos yang mengantarkan pemanduan terhadap objek wisata ini yang diyakini oleh masyarakat setempat. Mulai dari ikan yang terdapat di air terjun ini, bila mana ditangkap maka ikannya akan mo’dele atau biasa disebut Gomo sahaya – haya, Gomo si’dele i’a ( ikan yang dapat menjerit layaknya seekor babi ). Belut sebesar gumpalan tangan yang diyakini terdapat dalam dasar air terjun ini hingga pindahnya hilir air terjun sekitar 5m kebawah oleh sibatua bernama “Silewe Mazauwu” yang kononnya takut piring yang diletakkannya di dasar jatuhnya air terjun ( hadro – hadro idanÖ ) itu pecah hingga pengakuan dari warga setempat yaitu “bÖi tibo’Ö gara ba helaowo” jangan melemparkan batu di sungai helaowo penyebabnya adalah turunnya hujan dan mengakibatkan banjir di sungai tersebut, sehingga inilah yang merupakan larangan bagi warga setempat maupun bagi wisatawan yang datang.

Di objek wisata ini juga pernah dibangun guest house atau rumah penyambut tamu, namun telah hancur akibat banjir luar biasa yang datang dari hilir air terjun tersebut ( namő fadőlő ) sehingga hanya meninggalkan puing – puing seperti layaknya bangunan bersejarah karena tidak ada perhatian dari pemerintah setempat untuk kembali membangun guest house ini. Juga pernah dibangun pembatas – pembatas untuk pinggiran sungai ini oleh BMN Mandiri namun kembali memprihantinkan lagi, karena sudah mulai rusak oleh banjir yang sering kali terjadi di sungai ini. Sehingga agak jauh dari sungai ini baru terdapat pemukiman penduduk.

By: Yulius tel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar